Rabu, 9 Juli 2025, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri menggelar kegiatan bedah buku berjudul "Badhutan Mojoreno" karya Kun Prastowo di Gedung MPP Go Nyawiji. Buku ini mengangkat kisah perjuangan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa dalam balutan cerita rakyat khas daerah Mojoreno. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Disarpus Wonogiri dalam menumbuhkan literasi berbasis budaya lokal dan menggugah kembali semangat sejarah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan diawali dengan laporan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Bapak Mawan Tri Hananto, S.STP., M.Si., yang menyampaikan tujuan penyelenggaraan bedah buku ini, yaitu sebagai bentuk apresiasi terhadap karya sastra lokal serta upaya pelestarian nilai-nilai sejarah melalui pendekatan literasi. beliau juga menyoroti tentang Indeks Pembangunan Literasi Masyarakata (IPLM) di Kabupaten Wonogiri yang masih tergolong masih rendah dan berharap dengan kegiatan bedah buku ini sebagai bentuk upaya untuk meingkatkannya.
Acara secara resmi dibuka oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri, Ibu Dra. Ristanti, M.M. Dalam sambutannya, beliau mengapresiasi karya sastra yang mengangkat perjuangan tokoh lokal seperti Raden Mas Said sebagai bagian dari penguatan karakter dan identitas daerah. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai sarana pembelajaran sejarah yang kontekstual dan menyenangkan.
Sebagai bentuk penghargaan dan simbol dukungan terhadap dunia literasi lokal, dalam kesempatan tersebut penulis buku, Kun Prastowo, secara langsung menyerahkan dua eksemplar buku Badhutan Mojoreno kepada Bapak Mawan Tri Hananto dan Ibu Dra. Ristanti. Penyerahan buku ini menjadi penanda bahwa karya sastra lokal mendapat tempat dalam ruang publik dan menjadi bagian dari koleksi pustaka daerah.
Masuk ke sesi inti, Kun Prastowo sebagai narasumber memaparkan isi buku, mulai dari latar belakang penulisan, sumber cerita, proses penulisan, hingga nilai-nilai yang terkandung dalam kisah perlawanan Raden Mas Said. Panelis dalam kegiatan ini, Dr. Muhammad Julijanto, M.Ag., memberikan tanggapan akademik dan kritik membangun terhadap isi buku, serta mengaitkannya dengan konteks sosial dan budaya saat ini. Diskusi berjalan hangat dan memperkaya pemahaman peserta terhadap makna dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku.
Bedah buku ini dipandu oleh moderator Amalia Putri Addienisahna, Duta Wisata Wonogiri Tahun 2025, yang mampu menciptakan suasana interaktif dan komunikatif. Peserta dari berbagai kalangan turut aktif mengajukan pertanyaan dan tanggapan. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa cerita rakyat dan sejarah lokal tetap relevan dan menarik untuk dikaji. Kegiatan ini diakhiri dengan harapan agar semangat literasi berbasis budaya lokal terus tumbuh di Kabupaten Wonogiri.
