Ruang Literasi Warga
Bantuan Buku Bacaan Bermutu: Oase Literasi dan Tantangan di Masyarakat
Artikel Literasi

Bantuan Buku Bacaan Bermutu: Oase Literasi dan Tantangan di Masyarakat

Menurut data penerima bantuan buku bermutu dari Perpustakaan Nasional pada tahun 2024 dan 2025, terdapat 27 perpustakaan desa dan taman bacaan masyarakat di Kabupaten Wonogiri sebagai penerima manfaat. Di tengah tantangan rendahnya minat baca masyarakat dan keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memberikan bantuan buku bermutu untuk perpusdes dan TBM.

Hal itu seperti angin segar yang bertiup di cuaca yang panas. Kehadiran buku bermutu ibarat oase di tengah gurun pasir. Buku-buku yang telah dihadirkan di perpustakan desa dan TBM, tidak bisa berjalan menghampiri pembacanya. Peran pengelola perpusdes, relawan TBM, pegiat literasi diperlukan untuk menggerakkan pembaca untuk mengunjungi perpusdes maupun TBM. Buku-buku tersebut bukan hanya sekadar tumpukan halaman atau kertas, melainkan sumber pengetahuan yang bersinar di tempat-tempat yang sederhana: perpustakaan desa, pojok baca, di TPQ maupun mushala.

Misalnya, di TBM Rumah Baca Biting, yang terletak di Kecamatan Purwantoro, sumbangan buku dari Perpusnas seharusnya menjadi pusat dari berbagai aktivitas literasi, mulai dari sesi membaca bersama, diskusi, pelatihan menulis hingga penyuluhan mengenai literasi untuk keluarga. Kumpulan buku yang mencakup cerita anak-anak, dongeng, keterampilan hidup, dan motivasi, berfungsi sebagai bahan pemicu intelektual yang menjangkau berbagai kelompok usia dan latar belakang.

Maka timbullah pertanyaan, apakah buku yang sudah ada bisa dimaksimalkan penggunaannya? Pada tahun 2024, Rumah Baca Biting telah mengadakan sosialisasi: Gerakan Budaya Gemar Membaca dan Berkunjung ke Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat. Hadir dalam sosialisasi, guru TK/PAUD dan sekolah dasar sedistrik Purwantoro. Ajakan untuk gemar membaca dan berkunjung ke perpustakaan maupun TBM telah disampaikan oleh 2 narasumber. Namun, setelah acara selesai, guru-guru yang hadir tidak kunjung mengajak anak didik mereka untuk berkunjung ke TBM Rumah Baca Biting. Di sinilah pentingnya gerakan literasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pada kebutuhan lokal. Semua pihak harus terlibat. Taman bacaan masyarakat, perpustakaan desa, komunitas penulis, dan platform digital harus menjadi bagian dari ekosistem literasi yang hidup dan dinamis. Literasi bukan tugas satu hari dan satu komunitas. Semua harus terlibat, termasuk orang tua dan guru. Literasi adalah proses yang berkelanjutan sepanjang hayat. Dan ketika literasi telah menjadi bagian dari cara hidup, maka masyarakat akan tumbuh menjadi lebih cerdas, adil, dan beradab. Sayangnya, oase itu tidak disambut antuias oleh masyarakat.

Tulisan ini merupakan kontribusi warga dan telah melalui moderasi publikasi oleh admin LiGaMu.