Ruang Literasi Warga
Catatan Relima: Dari Lilin di Desa Untuk Indonesia
Artikel Literasi

Catatan Relima: Dari Lilin di Desa Untuk Indonesia

“Indonesia tidak akan berjaya dengan obor besar di Jakarta, tapi bercahaya karena lilin-lilin di desa.” Begitu kata Bung Hatta. Saya tidak akan membayangkan lilin-lilin yang dimaksud Bung Hatta adalah lampu-lampu yang ada di obyek wisata. Lilin itu adalah simbol perjuangan kecil yang menyala di tengah kegelapan, perjuangan yang memberi harapan. Bagi saya, lilin itu bernama literasi.

Saya percaya, cahaya literasi yang lahir dari sudut-sudut desa akan menerangi jalan panjang menuju Indonesia emas, jalan menuju bangsa yang lebih bermartabat. Tetapi nyala itu mudah padam. Terlalu sering tertiup angin keterbatasan, minimnya dukungan, minimnya anggaran bahkan ketidakpedulian.

Tugas Relima adalah menjaga lilin itu tetap menyala. Ketika data menjadi alarm. Hasil Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2022 menjadi tamparan keras. Skor Indonesia hanya 369, jauh di bawah Singapura, Malaysia bahkan Thailand. Yang paling rendah adalah kemampuan membaca. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menambahkan, hanya 25 % siswa Indonesia yang mampu berada di level 2 membaca, tanpa satu pun yang menyentuh top performer (level tertinggi).

Di Wonogiri, nilai indeks literasi masyarakat hanya 45,57 dan menjadi salah satu kabupaten terendah di Jawa Tengah. Angka-angka itu bukan sekadar data, tetapi potret masa depan bangsa. Harus ada usaha agar nyala literasi terus berkelanjutan. Dari 294 desa dan kelurahan, tak sampai 2% yang mengadakan kegiatan literasi ataupun fasilitasi perpustakaan desa. Bukan karena tidak ada dana, melainkan karena tidak ada yang mendorong dan menggerakkan. Namun, ketika advokasi beberapa kepala desa, ada yang berkata: “Kalau ada yang mendampingi dan membantu program, saya siap anggarkan untuk perpustakaan”. Ucapan itu seperti setetes air di tanah kering. Literasi memang butuh penggerak, bukan sekadar wacana.

Di situlah Relima dan para pegiat literasi hadir, tidak sekadar relawan, tapi jembatan yang menghubungkan desa, komunitas, sekolah dan pemerintah. Ada masa ketika saya harus meninggalkan rumah tiga hari dua malam demi nyala literasi.

Berangkat dari Purwantoro (Jumat pagi) untuk mendongeng di Perpustakaan Pagutan, Kecamatan Manyaran, lalu siangnya berkeliling inventarisasi dan praktik baik literasi dengan pengelolanya. Malam sabtu, saya tidur di masjid Desa Ngadiroyo, Kecamatan Nguntoronadi, karena esoknya harus berangkat ke Kecamatan Baturetno lebih pagi ke RA Al-Falah.

Siangnya lanjut ke Giriwoyo inventarisasi lagi sembari sharing dengan pengelolanya. Sebelum minggu pagi harus menuju TBM Syahidah Kecamatan Giriwoyo, malam minggunya tidur di rumah teman di Desa Sidorejo, Kecamatan Tirtomoyo.

Setelah dari TBM Syahidah, siangnya kembali ke Purwantoro karena ditunggu untuk mendongeng di TPQ Nurul Falah. Jarak yang jauh, tidur di masjid, tidak pulang beberapa hari bukanlah kesulitan, melainkan pengingat bahwa jalan literasi memang tidak pernah mudah. Setiap kali melihat senyum anak-anak ketika mendengarkan dongeng atau membuka buku baru, rasa lelah itu pudar terganti bahagia. Lilin kecil itu kembali menyala.

Saya sering bertanya pada diri sendiri “Apakah cukup enam bulan menjadi Relima untuk menyalakan semua lilin-lilin itu?” Jawabannya jelas: tidak. Tetapi enam bulan bisa menjadi permulaan. Relima adalah api kecil yang bila dijaga akan tumbuh menjadi obor nasional, obor pembangunan Indonesia. Literasi adalah proses berkelanjutan. Karena saya tahu, dari setiap buku yang dibuka, dari setiap cerita yang didongengkan, ada masa depan anak bangsa yang sedang dipertaruhkan.

Tulisan ini merupakan kontribusi warga dan telah melalui moderasi publikasi oleh admin LiGaMu.